Total Pageviews

Wednesday, 19 December 2012

Harapan Yang Sirna

Aku yang kini terpedaya rasa
Mengelola setiap jatah takdir dari galau yang kadang tak beralasan, dari sisa muhasabah yang sering meinggalkan jejak penyesalan. Memungut kepingan – kepingan laku diri yang terhempas di pelataran jiwa. Membingkai secuil asa dari rajutan niat yang sering merenggangkan jejaring yang mengfilter penyakit hati. Membidik rasa dalam kesempatan kebersamaan.

Engkau yang berjuluk wanita cantik penuh keanggunan, menawan hatiku di buai pesonamu. Hingga setiap lepas pandang yang melesat adalah detail indah dari sketsa hati yang telah menjadi milikmu. Membawa rasa ini dalam setiap malam, untuk hati yang kini telah kehilangkan kesucianya seiring hadirnya wujud sempurna bayangmu di setiap angan.

Aku yang kalah, aku yang kini terperdaya rasa…

Aku!, yang ternyata tak bisa melesat cepat membawa rasa ini, hingga syetan berhasil hinggap. Dan seiring kesadaran… kiranya sang pemilik setiap hati halalkan perasaan ini dengan perjanjian agung. Namun di ujungnya, ketika prasasti itu ternyata ditakdirkan bukan untukku. Aku tahu harus pasrah meski berurai air mata…
“Ketika bayangan wajahnya sering hadir di pelupuk mata
Ketika derap langkahya menggetarkan jiwa
Ketika kesempatan bersanding sudah tiada lagi.

No comments:

Post a Comment